Minggu, 16 April 2017

al-Quran sebagai (asy-Syifa) Proteksi Diri

0

Image result for kata asy-syifa dalam al-quran 


Umat Islam meyakini bahwa yang dimaksud dengan asy-Syifa -yang sejajar dengan al-Kitab, al-Huda, atau al-Furqan- merupakan nama lain dari al-Quran yang bermakna "obat". Makna ini tidak salah secara gramatikal, jika kita mengacu pada Bahasa Arab kamus. Namun, jika nama itu disandarkan kepada al-Quran, rasanya kurang tepat jika asy-Syifa hanya dimaknai sebagai obat. Kata syifa’ disebut sebanyak 4 kali dalam Al Qur’an, yaitu dalam surat Yunus [10]:57, An Nahl [16]:69, Al Isra [17]: 82, dan Fushshilat [41]: 44. Dari ayat-ayat tersebut, kebanyakan umat Muslim memaknai al-Quran sebagai obat penyembuh berbagai penyakit, baik penyakit jasmani maupun rohani. Namun, bukan berarti penulis menafikan makna tersebut. Hanya saja, perlu dicari pemahaman lain yang dirasa mendekati kata tepat.
Di sini, penulis sendiri memahami kata asy-Syifa dengan dua makna. Pertama, kata tersebut bermakna pencegah/ pelindung/ proteksi. Artinya, memang benar al-Quran adalah asy-Syifa, dalam artian proteksi bagi umat Islam dari bahaya penyakit-penyakit fisik dan rohani. Sebelum terjangkit racun-racun tersebut, umat muslim disarankan terlebih dahulu oleh Allah untuk memproteksi diri mereka dengan banyak membaca al-Quran. Karena jika banyak membaca al-Quran, tubuh akan sehat dengan sendirinya, tanpa takut terkena penyakit. Sehingga, jarang sekali orang yang rajin membaca al-Quran mendatangi seorang ustadz untuk meminta mengobati. Justru sebaliknya, orang yang rajin membaca al-Quran, bisa jadi akan didatangi orang untuk meminta penyembuhan darinya. Istilah ini dikenal dengan nama ruqyah.
Kedua, makna kata asy-syifa yakni makna gramatikal itu sendiri, yaitu obat. Artinya, jika seseorang terkena gangguan makhluk halus atau penyakit fisik, al-Quran bisa dijadikan sebagai alternatif penyembuhan. Namun, cara ini merupakan jalan yang paling akhir. Karena yang lebih utama ialah mencegah, sebagaimana peribahasa mengatakan '' mencegah lebih baik daripada mengobati".
Lebih jauh lagi, jika asy-Syifa hanya dimaknai sebagai obat, tanpa disadari artinya ialah penyakit itu sendiri. Karena, adanya obat jika hanya adanya penyakit. Sedangkan penyakit itu bisa dicegah.
Analoginya, jika al-Quran dimaknai sebagai obat, hal itu sama saja dengan obat dari dokter yang hanya dipakai ketika sakit saja. Obat dari dokter, hanya dicari ketika sakit saja. Apakah al-Quran hanya berfungsi demikian ? Ketika penyakit sembuh, obat tersebut pasti tidak akan dipakai lagi. Hal ini banyak terjadi dalam kehidupan Muslim. Ketika terkena penyakit, baik itu jasmani maupun rohani, mereka mendatangi ustadz untuk meminta ayat yang bisa menyembuhkannya seperti meminta resep obat kepada dokter. Padahal, bukan itu hakikat dari pengobatan. Dokter sering mengingatkan pasiennya untuk banyak berolahraga, makan teratur, banyak minum air putih, agar tidak terkena penyakit lagi. Artinya, si pasien diminta untuk memproteksi dirinya. Seperti itulah Allah menginginkan manusia untuk rajin membaca al-Quran sebagai proteksi terhadap berbagai penyakit.

Read more

Minggu, 09 April 2017

Wahyu Merupakan Sebuah Konsep Linguistik

0

Image result for gambar joglo
“Wahyu merupakan sebuah konsep linguistik.” Begitulah ungkapan Toshihiko Izutsu. Dalam bukunya, God and Man in the Koran, ia menyatakan bahwa wahyu turun dengan menggunakan bahasa sehari-hari manusia (bahasa Arab). Artinya, Allah berbicara kepada manusia. Bagaimanapun, pengertian wahyu memiliki makna dan hakikat yang berbeda diantara tiga agama samawi, yakni Islam, Yahudi, dan Nasrani. Dalam Islam, terdapat tiga macam bentuk pewahyuan yang dijelaskan dalam al-Quran: 42:51. Yakni melalui mimpi, seperti yang dialami Nabi Ibrahim mengenai perintah penyembelihan, lalu dari balik tabir, seperti pengalaman Nabi Musa saat ingin melihat Allah di bukit Tursina, dan yang terkahir dengan mengutus malaikat Jibril. Proses pewahyuan mulai dari Tuhan hingga menjadi bahasa yang dapat dipahami manusia, mengalami empat proses. Pertama, tingkatan yang paling tinggi, yakni Tuhan-Lauh Mahudz-Langit-Malaikat Jibril. Ini merupakan tingkatan yang berada di luar nalar manusia. Kedua, merupakan wahyu yang telah dilafazkan dalam bahasa manusia. Pada tingkatan ini, Nabi menyampaikan wahyu kepada manusia dengan menyesuaikan kondisi yang beragam. Ketiga, wahyu telah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat, karena wahyu telah ditulis dan diaktualisasikan dengan cara yang berbeda-beda antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya. Keempat, merupakan suatu bentuk usaha interpretasi manusia masa kini terhadap wahyu al-Quran.

Read more

Minggu, 02 April 2017

al-Quran Dalam Konteksnya

1


   
         Sudah seharusnya kita sebagai seorang Muslim memahami al-Quran secara komprehensif. Salah satu cara memahami ayat-ayat al-Quran secara luas tanpa kehilangan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya yaitu dengan memahami konteks yang melingkupi ayat tersebut turun. Al-Quran diturunkan kepada masyarakat Hijaz, yang meliputi Mekah dan Madinah secara umum. Memahami daerah Hijaz secara keseluruhan juga merupakan bagian dari usaha untuk memahami al-Quran. Mulai dari memahami bagaimana keadaan negeri Hijaz, keadaan serta sifat (karakter) masyarakat di sana, bagaimana pula budaya serta norma-norma yang berlaku di masyarakat setempat yang merupakan suku nomaden, lalu bagaimana konteks agama di Hijaz. Singkat kata, pemahaman mengenai negeri Hijaz dan segala tentangnya, akan membantu memperjelas pemahaman mengenai pesan al-Quran. 

Read more

 
Design by ThemeShift | Bloggerized by Lasantha - Free Blogger Templates | Best Web Hosting