Minggu, 09 April 2017

Wahyu Merupakan Sebuah Konsep Linguistik

0

Image result for gambar joglo
“Wahyu merupakan sebuah konsep linguistik.” Begitulah ungkapan Toshihiko Izutsu. Dalam bukunya, God and Man in the Koran, ia menyatakan bahwa wahyu turun dengan menggunakan bahasa sehari-hari manusia (bahasa Arab). Artinya, Allah berbicara kepada manusia. Bagaimanapun, pengertian wahyu memiliki makna dan hakikat yang berbeda diantara tiga agama samawi, yakni Islam, Yahudi, dan Nasrani. Dalam Islam, terdapat tiga macam bentuk pewahyuan yang dijelaskan dalam al-Quran: 42:51. Yakni melalui mimpi, seperti yang dialami Nabi Ibrahim mengenai perintah penyembelihan, lalu dari balik tabir, seperti pengalaman Nabi Musa saat ingin melihat Allah di bukit Tursina, dan yang terkahir dengan mengutus malaikat Jibril. Proses pewahyuan mulai dari Tuhan hingga menjadi bahasa yang dapat dipahami manusia, mengalami empat proses. Pertama, tingkatan yang paling tinggi, yakni Tuhan-Lauh Mahudz-Langit-Malaikat Jibril. Ini merupakan tingkatan yang berada di luar nalar manusia. Kedua, merupakan wahyu yang telah dilafazkan dalam bahasa manusia. Pada tingkatan ini, Nabi menyampaikan wahyu kepada manusia dengan menyesuaikan kondisi yang beragam. Ketiga, wahyu telah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat, karena wahyu telah ditulis dan diaktualisasikan dengan cara yang berbeda-beda antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya. Keempat, merupakan suatu bentuk usaha interpretasi manusia masa kini terhadap wahyu al-Quran.
Berbicara mengenai wahyu, tentu akan teringat dengan wahyu pertama yang turun kepada Nabi. Pengalaman yang baru pertama kali dialami Nabi itu terjadi saat beliau bersemedi di Gua Hira. Saat itu, datang sosok Jibril dengan membawa perintah membaca yang ditujukan kepada Nabi Muhammad. Nabi pun menjawab bahwa ia tidak bisa membaca. Hingga perintah itu diulang tiga kali, Nabi masih kebingungan dengan perintah tersebut. Akhirnya Jibril pun melanjutkan wahyu-Nya hingga ayat ke lima. Terdapat makna yang bisa kita ambil dari wahyu pertama tersebut. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Nabi merupakan seorang Nabi dan Rasul. Seorang Nabi, hanya menerima wahyu untuk dirinya sendiri. Sedangkan Rasul, apa yang ia terima dari Allah, harus ia sampaikan kepada umatnya. Ia bisa menjadi seorang Nabi dan bisa menjadi seorang Rasul. Wahyu yang pertama turun, yang berisi perintah membaca, merupakan wahyu yang ia sampaikan kepada umatnya. Artinya, perintah tersebut bukan hanya ditujukan kepada dirinya saja, namun juga kepada seluruh umatnya. Setelah wahyu pertama mengenai perintah membaca tersebut, barulah Nabi menerima berbagai macam wahyu, seperti sejarah umat terdahulu, gambaran hari akhir, hukum-hukum bagi umat Islam, hingga perenungan terhadap alam semesta. Semua itu, diawali dengan perintah membaca. Dalam konteks sekarang, tentu saja, banyak ilmu yang mengharuskan manusia untuk banyak membaca. Dan bisa dikatakan, bahwa membaca menjadi salah satu bentuk peng-aplikasi-an terhadap ayat al-Quran yang akan banyak manfaatnya. Karena jika membaca sudah menjadi bagian dari hidup kita, maka kita telah mengantarkan diri kepada dunia.



Diskusi buku Pengantar Studi al-Quran karya Abdullah Saeed Part 2.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by ThemeShift | Bloggerized by Lasantha - Free Blogger Templates | Best Web Hosting