“Wahyu
merupakan sebuah konsep linguistik.” Begitulah ungkapan Toshihiko Izutsu. Dalam
bukunya, God and Man in the Koran, ia menyatakan bahwa wahyu turun
dengan menggunakan bahasa sehari-hari manusia (bahasa Arab). Artinya, Allah
berbicara kepada manusia. Bagaimanapun, pengertian wahyu memiliki makna dan
hakikat yang berbeda diantara tiga agama samawi, yakni Islam, Yahudi, dan
Nasrani. Dalam Islam, terdapat tiga macam bentuk pewahyuan yang dijelaskan
dalam al-Quran: 42:51. Yakni melalui mimpi, seperti yang dialami Nabi Ibrahim
mengenai perintah penyembelihan, lalu dari balik tabir, seperti pengalaman Nabi
Musa saat ingin melihat Allah di bukit Tursina, dan yang terkahir dengan
mengutus malaikat Jibril. Proses pewahyuan mulai dari Tuhan hingga menjadi
bahasa yang dapat dipahami manusia, mengalami empat proses. Pertama,
tingkatan yang paling tinggi, yakni Tuhan-Lauh Mahudz-Langit-Malaikat Jibril.
Ini merupakan tingkatan yang berada di luar nalar manusia. Kedua, merupakan
wahyu yang telah dilafazkan dalam bahasa manusia. Pada tingkatan ini, Nabi
menyampaikan wahyu kepada manusia dengan menyesuaikan kondisi yang beragam.
Ketiga, wahyu telah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat, karena wahyu
telah ditulis dan diaktualisasikan dengan cara yang berbeda-beda antara
masyarakat satu dengan masyarakat lainnya. Keempat, merupakan suatu bentuk
usaha interpretasi manusia masa kini terhadap wahyu al-Quran.
Berbicara
mengenai wahyu, tentu akan teringat dengan wahyu pertama yang turun kepada
Nabi. Pengalaman yang baru pertama kali dialami Nabi itu terjadi saat beliau
bersemedi di Gua Hira. Saat itu, datang sosok Jibril dengan membawa perintah
membaca yang ditujukan kepada Nabi Muhammad. Nabi pun menjawab bahwa ia tidak
bisa membaca. Hingga perintah itu diulang tiga kali, Nabi masih kebingungan
dengan perintah tersebut. Akhirnya Jibril pun melanjutkan wahyu-Nya hingga ayat
ke lima. Terdapat makna yang bisa kita ambil dari wahyu pertama tersebut.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa Nabi merupakan seorang Nabi dan Rasul. Seorang
Nabi, hanya menerima wahyu untuk dirinya sendiri. Sedangkan Rasul, apa yang ia
terima dari Allah, harus ia sampaikan kepada umatnya. Ia bisa menjadi seorang
Nabi dan bisa menjadi seorang Rasul. Wahyu yang pertama turun, yang berisi
perintah membaca, merupakan wahyu yang ia sampaikan kepada umatnya. Artinya,
perintah tersebut bukan hanya ditujukan kepada dirinya saja, namun juga kepada
seluruh umatnya. Setelah wahyu pertama mengenai perintah membaca tersebut,
barulah Nabi menerima berbagai macam wahyu, seperti sejarah umat terdahulu, gambaran
hari akhir, hukum-hukum bagi umat Islam, hingga perenungan terhadap alam
semesta. Semua itu, diawali dengan perintah membaca. Dalam konteks sekarang,
tentu saja, banyak ilmu yang mengharuskan manusia untuk banyak membaca. Dan
bisa dikatakan, bahwa membaca menjadi salah satu bentuk peng-aplikasi-an
terhadap ayat al-Quran yang akan banyak manfaatnya. Karena jika membaca sudah
menjadi bagian dari hidup kita, maka kita telah mengantarkan diri kepada dunia.
Diskusi buku Pengantar Studi al-Quran karya Abdullah Saeed Part 2.

0 komentar:
Posting Komentar