Baik tidaknya ibadah puasa seseorang di bulan Ramadan, bisa dilihat nanti ketika Ramadan telah berlalu, apabila puasa telah menjadi ideologinya. Puasa telah menjadi rutinias ibadah Muslim setiap tahun, dimana saat bulan Ramadan, umat Islam diminta meninggalkan hal-hal yang kurang bermanfaat dan dianjurkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sayangnya, itu hanya berlangsung selama tiga puluh hari. Fenomena yang terjadi di masa sekarang ini menunjukkan bahwa pemahaman umat Islam terhadap ‘puasa’ hanyalah ibadah yang dilakukan di bulan Ramadan. Hal itu ada kaitannya dengan tatanan kehidupan manusia di masyarakat hingga negara yang masih amburadul.
Di dalam puasa,
terdapat hal yang jauh lebih penting dari hanya sekedar meninggalkan makan dan
minum, yakni melatih hawa nafsu. Meninggalkan makan dan minum hanyalah satu
diantara sekian cara untuk melatih nafsu yang terletak di perut. Dalam banyak riwayat
diterangkan bahwa puasa seseorang akan tiada gunanya apabila tidak meninggalkan
perkataan dan perbuatan keji, yang apabila dikontekstualisasikan dalam dunia
mahasiswa bisa berupa berbohong, berbuat curang saat ujian, atau berbuat
plagiasi. Dalam konteks kemasyarakatan bisa digambarkan dengan ghibah, mengadu
domba, atau riya’, dan dalam konteks pemerintahan dapat berupa perbuatan tidak
adil, suap menyuap, atau penggunaan jurus ‘ajimumpung’.
Hal tersebut bisa
dianalogikan dengan puasanya beberapa binatang yang juga berpuasa untuk
kelangsungan hidupnya, contohnya yaitu ulat dan ular. Apabila seekor ulat baru
menetas dari telurnya, ia akan langsung memakan daun-daun disekitarnya tanpa
henti. Saat waktunya tiba, ia akan mempuasakan dirinya dengan baik dan benar bil-istiqamah,
agar hasil yang didapatkan maksimal. Di dalam puasanya, ulat tersebut berusaha
melatih nafsu, hingga sampai waktunya tiba, ia akan berubah menjadi kupu-kupu
yang indah. Seandainya ulat tersebut tidak mampu menahan nafsunya, niscaya ia
tidak akan menjadi kupu-kupu yang sempurna. Ketika telah bermetamorfosa,
kupu-kupu tadi telah terlatih nafsunya. Ia telah berubah dari yang sebelumnya
sangat konsumtif, menjadi pribadi yang sangat sederhana (ketika telah menjadi
kupu-kupu, si ulat tidak lagi memakan daun, namun hanya menghisap madu), serta
bertransformasi menjadi makhluk yang menguntungkan makhluk lain (ketika menjadi
ulat, ia banyak memakan daun sehingga dianggap hama bagi petani, dan ketika
menjadi kupu-kupu, perilakunya berubah menjadi hewan yang membantu proses
penyerbukan pada bunga). Dan inilah yang diharapkan oleh Allah kepada
orang-orang yang berpuasa. Dalam ayat-Nya Allah berfirman “La’allakum
tattaqun”, “agar kalian menjadi orang yang bertakwa”, agar manusia menjadi kupu-kupu
yang indah di tengah masyarakat, memberi manfaat kepada makhluk lain, bahkan
ketika mati pun ia akan dikenang oleh orang banyak karena ‘keelokannya’.
Sebaliknya, puasa yang hanya sekedar meninggalkan makan dan minum, tidak akan
mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus, seperti yang dilakukan ular. Ketika
waktu berganti kulitnya tiba, ular akan berhenti memangsa (berpuasa), dan
setelah kulitnya berganti, ular tersebut akan beraktifitas kembali seperti
biasanya tanpa ada perubahan, kecuali hanya ‘baju baru’.
Saat bulan Ramadan
tiba, segala bentuk ideologi yang melekat pada diri manusia: ‘materialis,
konsumtif, kapitalis, perfeksionis, melankolis, modernis, hedonis’, dan apa pun
itu yang berorientasi pada keduniaan, diwajibkan untuk dilepas sejenak, dan
diganti dengan ideologi shaumis yang berorientasi pada pengendalian nafsu.
Seandainya puasa telah menjadi ideologi –bukan hanya saat di bulan Ramadan- dan
mengalir dalam jiwa seseorang, niscaya tatanan kehidupan bermasayarakat dan
bernegara akan baik, serta akan membuat agama, bangsa, dan negara akan maju.
Sebab tidak akan ada lagi yang memperdebatkan siapa yang benar siapa yang salah,
melainkan akan terciptanya masyarakat yang saling memahami dan menerima
perbedaan, para penyebar berita hoax tidak lagi menyebar berita fitnahnya,
melainkan akan menyebarkan berita-berita yang bersifat membangun dan saling
menguntungkan, kaum-kaum proletar tidak lagi merasa minder dengan kelompok
materialis, sebab mereka saling berbagi, para petinggi tidak lagi memuaskan
dirinya sendiri, sebaliknya mereka berlaku adil dan tidak menzalimi rakyatnya, serta
tidak ada lagi yang berprasangka buruk satu sama lain, sebaliknya masyarakat
akan ber-husnuzhan baik antar sesama teman, kerabat, golongan, kelompok,
maupun antara bawahan-atasan, guru-murid, orang tua-anak, ataupun rakyat-pemerintah.
0 komentar:
Posting Komentar